Penggunaan Bahasa Figuratif dalam Menulis Karangan Puisi
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Kemampuan menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang harus dimiliki oleh para lulusan SD. Kemampuan ini fungsional sifatnya bagi pengembangan diri mereka, baik untuk melanjutkan studinya maupun dalam pergaulan dalam kehidupannya sehari-hari. Siswa yang memiliki kemampuan menulis memungkinkan mereka untuk dapat mengkomunikasikan gagasan, penghayatan, dan pengalamannya ke berbagai pihak terlepas dari ikatan waktu dan tempat. Tradisi menulis tidak saja harus dibina dan ditingkatkan secara cepat dan merata, tetapi juga diarahkan kepada penulisan karya-karya besar. Kebiasaan dan keterampilan menulis harus sudah mulai dibina sejak tingkat pendidikan dasar hingga ke perguruan tinggi.
Kemampuan menulis para siswa SD umumnya belum sepenuhnya memenuhi syarat terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Mereka pada umumnya mengalami kesulitan menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal tersebut dilihat dari tugas-tugas yang mereka buat. Misalnya dalam menjawab soal-soal ulangan, menyusun karangan pendek, laporan, menulis puisi, dan semacamnya. Beberapa kesalahan yang sering ditemui dalam karangan siswa (termasuk karangan puisi) diantaranya adalah.
Kalimat yang tidak tentu ujung pangkalnya.
Kalimat tanpa subjek.
Hubungan yang kurang logis diantara bagian-bagian kalimat.
Jalan pikiran yang meloncat-loncat.
Hubungan antarparagraf yang kurang sistematis.
Peralihan paragrap yang kurang tepat.
Pilihan kata yang kurang tepat.
Kemampuan menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang harus dimiliki oleh para lulusan SD. Kemampuan ini fungsional sifatnya bagi pengembangan diri mereka, baik untuk melanjutkan studinya maupun dalam pergaulan dalam kehidupannya sehari-hari. Siswa yang memiliki kemampuan menulis memungkinkan mereka untuk dapat mengkomunikasikan gagasan, penghayatan, dan pengalamannya ke berbagai pihak terlepas dari ikatan waktu dan tempat. Tradisi menulis tidak saja harus dibina dan ditingkatkan secara cepat dan merata, tetapi juga diarahkan kepada penulisan karya-karya besar. Kebiasaan dan keterampilan menulis harus sudah mulai dibina sejak tingkat pendidikan dasar hingga ke perguruan tinggi.
Kemampuan menulis para siswa SD umumnya belum sepenuhnya memenuhi syarat terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Mereka pada umumnya mengalami kesulitan menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal tersebut dilihat dari tugas-tugas yang mereka buat. Misalnya dalam menjawab soal-soal ulangan, menyusun karangan pendek, laporan, menulis puisi, dan semacamnya. Beberapa kesalahan yang sering ditemui dalam karangan siswa (termasuk karangan puisi) diantaranya adalah.
Kalimat yang tidak tentu ujung pangkalnya.
Kalimat tanpa subjek.
Hubungan yang kurang logis diantara bagian-bagian kalimat.
Jalan pikiran yang meloncat-loncat.
Hubungan antarparagraf yang kurang sistematis.
Peralihan paragrap yang kurang tepat.
Pilihan kata yang kurang tepat.
Kemampuan berbahasa Indonesia para siswa SD tidak dapat dilepaskan dari pengajaran bahasa Indonesia itu sendiri di sekolah. Sejauhmana dan dengan cara bagaimana pengajaran kemampuan menulis, sangat menentukan kemampuan siswa setelah ia menyelesaikan sekolahnya. Pengajaran yang menitikberatkan pengetahuan tata bahasa, kesusteraan, dan semantik saja tidak akan menghasilkan siswa yang terampil menulis. Kemampuan menulis siswa banyak ditentukan oleh aktivitas siswa itu sendiri dalam pelajaran mengarang.
Kemampuan pemilihan kata, sadar atau tidak, harus dihadapi dalam kegiatan menulis. Meskipun ada anggapan bahwa komunikasi kadang-kadang juga dapat efektif dengan kosakata yang terbatas atau yang kurang tepat, tetapi penguasaan jumlah kata yang terbatas berarti juga pembatasan sumber daya untuk mengungkapkan diri didalam kehidupan berbahasa. Jadi tidak dapat tidak, seorang yang belajar menulis harus berusaha meningkatkan jumlah kossakata yang dimilikinya setiap saat melalui berbagai kegiatan membaca dan menyimak, dan kemudian berupaya menggunakannya sesuai dengan konteks berbahasa yang berlangsung.
Salah satu kelemahan yang tampak pada karangan siswa adalah menentukan pilihan kata dan penggunaan kosakata. Keterbatasan mereka akan semakin tampak tatkala dihadapkan pada keharusan menggunakan kata-kata dan kalimat yang mengandung daya ekspresif. Perbendaharaan bahasa-bahasa figuratif para siswa demikian terbatas, terutama jika mereka diharuskan untuk untuk menuliskan sebuah puisi. Dalam pembelajaran bahasa figuratif (seperti gaya bahasa) biasanya para siswa diberikan contoh dari teori yang ada, bukan dari teks bacaan yang sebenarnya sehingga ketika akan menulis para siswa akan kebingungan jika dihadapkan pada perintah langsung membuat karangan.
Para siswa pada umumnya tidak mengenal puisi sebagaimana harusnya. Pengungkapan gagasan yang kadang hanya mengeksploitasi romantisme diri pribadi dalam bahasa yang sederhana dan kadang-kadang transparan atau bahkan terlalu gelap sehingga makna puisi tersebut tidak nampak. Selanjutnya, dalam penulisan puisi, para siswa tampaknya sering terjebak oleh aturan-aturan kebahasaan seolah-olah menulis puisi itu sama dengan seperti menulis karangan prosa. Bahasa-bahasa lugas kerap mereka gunakan.
Karya siswa dalam pembuatan puisi masih terdapat kelemahannya diantaranya.
Bahasa yang digunakan tidak memiliki intensitas makna.
Penggunaan bahasa figuratif, khususnya bentuk-bentuk ungkapan dan gaya bahasa bersifat klise.
Bentuk puisi masih banyak meniru bentuk-bentuk yang telah ada seperti bentuk-bentuk puisi lama dan puisi baru, serta puisi bebas yang sama sekali tidak menunjukkan kepaduan antarlirik maupun antarbait.
Penggunaan bentuk-bentuk elipsis yang tidak perlu.
Unsur tematik yang umumnya bersifat romantis sentimental.
Bahasa yang digunakan tidak memiliki intensitas makna.
Penggunaan bahasa figuratif, khususnya bentuk-bentuk ungkapan dan gaya bahasa bersifat klise.
Bentuk puisi masih banyak meniru bentuk-bentuk yang telah ada seperti bentuk-bentuk puisi lama dan puisi baru, serta puisi bebas yang sama sekali tidak menunjukkan kepaduan antarlirik maupun antarbait.
Penggunaan bentuk-bentuk elipsis yang tidak perlu.
Unsur tematik yang umumnya bersifat romantis sentimental.
Perumusan Masalah
Atas dasar kondisi seperti hal tersebut di atas penelitian tentang kemampuan mengarang puisi siswa Kelas V SD Negeri Ibu Jenab 2 perlu dilakukan.
Masalah dalam makalah ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut.
Apakah para siswa mampu menggunakan bahasa figuratife dalam menulis karangan puisi?
Jenis apakah yang umumnya digunakan oleh para siswa dalam menulis puisi?
Bagaimana keterpaduan dalam larik, bait, maupun keseluruhan puisi?
Atas dasar kondisi seperti hal tersebut di atas penelitian tentang kemampuan mengarang puisi siswa Kelas V SD Negeri Ibu Jenab 2 perlu dilakukan.
Masalah dalam makalah ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut.
Apakah para siswa mampu menggunakan bahasa figuratife dalam menulis karangan puisi?
Jenis apakah yang umumnya digunakan oleh para siswa dalam menulis puisi?
Bagaimana keterpaduan dalam larik, bait, maupun keseluruhan puisi?
Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini terarah dan memberikan gambaran yang jelas mengenai masalah yang diteliti, maka permasalahan dalam penelitian ini perlu dibatasi. Maka makalah ini mempunyai batasan dari masalah yang dihadapi, yaitu.
Penggunaan bahasa figuratif dalam menulis karya puisi siswa.
Jenis puisi yang digunakan dalam karangan puisi siswa.
Keterpaduan antara larik, bait, maupun keseluruhan puisi..
Agar penelitian ini terarah dan memberikan gambaran yang jelas mengenai masalah yang diteliti, maka permasalahan dalam penelitian ini perlu dibatasi. Maka makalah ini mempunyai batasan dari masalah yang dihadapi, yaitu.
Penggunaan bahasa figuratif dalam menulis karya puisi siswa.
Jenis puisi yang digunakan dalam karangan puisi siswa.
Keterpaduan antara larik, bait, maupun keseluruhan puisi..
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan.
Kemampuan menggunakan bahasa figuratif dalam karangan puisi yang disusun oleh siswa.
Jenis puisi yang digunakan oleh siswa dalam karangan.
Penggunaan keterpaduan larik, bait, dan keseluruhan puisi dalam karangannya.
Adapun tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan.
Kemampuan menggunakan bahasa figuratif dalam karangan puisi yang disusun oleh siswa.
Jenis puisi yang digunakan oleh siswa dalam karangan.
Penggunaan keterpaduan larik, bait, dan keseluruhan puisi dalam karangannya.
Asumsi Dasar
Yang menjadi asumsi (anggapan dasar) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Kemampuan menulis puisi merupakan keterampilan yang perlu dimilki oleh para lulusan SD. Kemampuan ini harus diajarkan dan dilatih sejak dini mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi sehingga diperlukan semacam strategi yang tepat dalam pembelajarannya.
Para siswa memiliki sejumlah kelemahan dalam cara pengungkapan gaggasannya sehingga mereka dianggap tidak mampu memenuhi persyaratan minimal dalam menulis puisi. Kelemahan-kelemahan ini bukan tidak mungkin disebabkan oleh kesalahan penerapan strategi pembelajran, kemampuan dasar guru itu sendiri, serta sangat sedikitnya upaya meningkatkan apresiasi, minat, dan kegemaran membaca puisi siswa.
Para siswa jarang dilibatkan kedalam penulisan-penulisan karya-karya besar yang memiliki makna khusus bagi mereka sehingga perhatian mereka terhadap pembelajaran apresiasi sastra khususnya menulis puisi dinilai kurang.
Penguasaan kosakata dan bahasa figuratif siswa dinilai masih sangat jauh dari memadai untuk mampu mengungkapkan gagasan ekspresifnya sehingga perlu suatu pembinaan khusus dalam hal memperkaya perbendaharaan kata serta upaya-upaya pembinaan penerapannya secara aplikatif.
Yang menjadi asumsi (anggapan dasar) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Kemampuan menulis puisi merupakan keterampilan yang perlu dimilki oleh para lulusan SD. Kemampuan ini harus diajarkan dan dilatih sejak dini mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi sehingga diperlukan semacam strategi yang tepat dalam pembelajarannya.
Para siswa memiliki sejumlah kelemahan dalam cara pengungkapan gaggasannya sehingga mereka dianggap tidak mampu memenuhi persyaratan minimal dalam menulis puisi. Kelemahan-kelemahan ini bukan tidak mungkin disebabkan oleh kesalahan penerapan strategi pembelajran, kemampuan dasar guru itu sendiri, serta sangat sedikitnya upaya meningkatkan apresiasi, minat, dan kegemaran membaca puisi siswa.
Para siswa jarang dilibatkan kedalam penulisan-penulisan karya-karya besar yang memiliki makna khusus bagi mereka sehingga perhatian mereka terhadap pembelajaran apresiasi sastra khususnya menulis puisi dinilai kurang.
Penguasaan kosakata dan bahasa figuratif siswa dinilai masih sangat jauh dari memadai untuk mampu mengungkapkan gagasan ekspresifnya sehingga perlu suatu pembinaan khusus dalam hal memperkaya perbendaharaan kata serta upaya-upaya pembinaan penerapannya secara aplikatif.
Manfaat Penelitian
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah di atas maka penelitian ini diharapkan akan memiliki manfaat bagi siswa, guru pengajar, lembaga pendidikan terkait, serta pribadi penulis. Bagi siswa diharapkan dapat membuka wawasan serta kemampuan mereka dalam membuat karangan puisinya. Bagi guru hasil penelitian ini diharapkan akan dapat dijadikan sebagai titik tolak pengembangan model pembelajaran menulis karangan puisi. Bagi lembaga hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi semacam sumbangan pemikiran bagi penyusunan model pembelajaran serta bahan kajian bagi penelitian yang akan dilakukan dikemudian hari.
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah di atas maka penelitian ini diharapkan akan memiliki manfaat bagi siswa, guru pengajar, lembaga pendidikan terkait, serta pribadi penulis. Bagi siswa diharapkan dapat membuka wawasan serta kemampuan mereka dalam membuat karangan puisinya. Bagi guru hasil penelitian ini diharapkan akan dapat dijadikan sebagai titik tolak pengembangan model pembelajaran menulis karangan puisi. Bagi lembaga hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi semacam sumbangan pemikiran bagi penyusunan model pembelajaran serta bahan kajian bagi penelitian yang akan dilakukan dikemudian hari.
Paradigma Penelitian
Lokasi penelitian yang diambil penulis adalah SD Negeri Ibu Jenab 2 Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur. Lokasi ini dipilih karena penulis sendiri merupakan salah satu pendidik di tempat itu.
Populasi yang digunakan sebagai obyek penelitian adalah seluruh siswa SD Negeri Ibu Jenab 2 Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur. Sedangkan sampel yang diambil adalah 1 (satu) kelas yaitu kelas IV
Lokasi penelitian yang diambil penulis adalah SD Negeri Ibu Jenab 2 Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur. Lokasi ini dipilih karena penulis sendiri merupakan salah satu pendidik di tempat itu.
Populasi yang digunakan sebagai obyek penelitian adalah seluruh siswa SD Negeri Ibu Jenab 2 Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur. Sedangkan sampel yang diambil adalah 1 (satu) kelas yaitu kelas IV
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Puisi
Dalam abad komunikasi serba cepat dewasa ini makin lama makin dirasakan pentingnya berkomunikasi, baik antaranggota masyarakat maupun antarkelompok dalam masyarakat. Alat komunikasi yang paling ampuh adalah bahasa. Komunikasi melalui bahasa memberikan peluang kepada kita untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan lingkungan spiritual dalam masyarakat. Dengan bahasa orang menyatakan perasaan, gagasan, bahkan dengan bahasa pula manusia berfikir dan bernalar. Dengan bahasa manusia menjalin perhubungan, persahabatan, kerja sama, tukar pendapat, dan sebagainya. Kita menyadari bahwa interaksi dan segala macam bentuk kegiatan dalam mayarakat akan lumpuh tanpa bahasa. Oleh karena itu, supaya komunikasi lancar dan tidak menimbulkan salah paham, kita perlu terampil berbahasa lisan maupun tertulis sehingga apa yang kita sampaikan kepada pembaca atau pendengar dapat dimengerti dan dipahami dengan baik, persis seperti apa yang kita maksudkan.
Dalam abad komunikasi serba cepat dewasa ini makin lama makin dirasakan pentingnya berkomunikasi, baik antaranggota masyarakat maupun antarkelompok dalam masyarakat. Alat komunikasi yang paling ampuh adalah bahasa. Komunikasi melalui bahasa memberikan peluang kepada kita untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan lingkungan spiritual dalam masyarakat. Dengan bahasa orang menyatakan perasaan, gagasan, bahkan dengan bahasa pula manusia berfikir dan bernalar. Dengan bahasa manusia menjalin perhubungan, persahabatan, kerja sama, tukar pendapat, dan sebagainya. Kita menyadari bahwa interaksi dan segala macam bentuk kegiatan dalam mayarakat akan lumpuh tanpa bahasa. Oleh karena itu, supaya komunikasi lancar dan tidak menimbulkan salah paham, kita perlu terampil berbahasa lisan maupun tertulis sehingga apa yang kita sampaikan kepada pembaca atau pendengar dapat dimengerti dan dipahami dengan baik, persis seperti apa yang kita maksudkan.
Keterampilan berbahasa manuntut adanya pengetahuan dan pengalaman dalam berbahasa. Pengetahuan yang memadai, baik pengetahuan berbahasa maupun nonkebahasaan perlu dimiliki. Dengan demikian pula, pengetahuan berbahasa belumlah dianggap lengkap apabila tidak disertai dengan pengalaman berbahasa. Pengalaman berbahasa hanya didapat melalui latihan yang intensif yang dapat mengembangkan potensi yang ada dalam diri setiap manusia. Dengan demikian, orang akan memperoleh keahlian bagaimana menggunakan daya pikir secara efektif, melalui bahasa lisan maupun bahasa tulis.
Keterampilan menulis merupakan salah satu kegiatan berbahasa yang dianggap primer, dan kompleks dan sulit dibandingkan dengan keterampilan berbahasa lainnya. Keterampilan menulis atau mengarang dengan memakai bahasa tulis pada dasarnya adalah kemampuan mengekspresikan pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman, secara sitematis dan logis sehingga tulisannya mudah dipahami pembaca.
Seorang penulis haruslah mampu menulis kata-kata yang benar menurut kaidah bahasa, menggunakan kata-kata dengan tepat, menyusun kalimat dengan efektif menyusun paragraf memenuhi syarat sehingga makna yang terkandung didalamnya dapat dipahami. Dalam kegiatan menulis juga kejelasan berbahasa ditandai oleh pemakaian kata yang tepat, kalimat yang efektif, dan tanda-tanda baca yang tepat.
Menulis puisi pada dasarnya adalah kegiatan mengkomunikasikan gagasan dan pemikiran dalam bentuk dan bahasa yang indah dan terpilih.Bahasa puisi adalah bahasa yang dipilih dalam bentuk dan bahasa yang indah dan terpilih sedemikian rupa sehingga benar-benar memilki kepadatan (intensitas) makna. Semua kata dalam puisi harus menyiratkan makna yang mengandung secara utuh gagasan yang ingin disampaikan penulisnya. Dengan demikian, menulis puisi merupakan satu keterampilan berbahasa yang lebih kompleks dibandingkan dengan menulis prosa. Penguasaan siswa atas kosakata serta ungkapan-ungkapan khas milik dirinya mutlak diperlukan. Jadi, dibutuhkan lebih dari sekedar cukup penguasaan kosakata dan daya pengungkapannya. Hal tersebut diperkuat oleh Tarigan (1983:21) yang mengemukakan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambing-lambang grafik tersebut, jika mereka memahami bahasa dan lambang grafik tadi. Menulis bukanlah sekedar menggambar huruf-huruf, melainkan menyampaikan pesan yang dibwa oleh penulis melalui gambar huruf-huruf tersebut, yaitu melalui bentuk karangan. Karangan sebagai ekspresi pikiran, gagasan, pendapat, penglaman, yang disusun secara sistematis dan logis
Penulis karangan sadar atau tidak berhadapan dengan masalah pemilihan kata (diksi). Pilihan kata ini merupakan salah satu unsur penting yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Pilihan kata yang tepat dalam sebuah tulisan akan mempertajam pengungkapan gagasan yang disampaikan penulisnya sehingga kalimat menjadi efektif dan efesien. Pilihan kata yang digunakan oleh seorang pengarang dalam karyanya erat kaitannya dengan kosakata yang dimilikinya.
Agar karangan yang ditulis mampu menampung gagasan penulis secara lengkap, maka mau tidak mau para siswa harus memiliki perbendaharaan kata yang lebih cukup. Selain kata-kata yang bermakna denotatif, para siswa diarahkan untuk mampu menguasai kata-kata yang memiliki makna konotatif serta bahasa figuratif.
Dalam puisi, perbendaharaan kata sangat penting untuk menunjukkan ciri khas puisi serta kekuatan ekspresi. Kata-kata yang digunakan oleh seorang penyair dalam sebuah puisi dipilih berdasarkan makna yang akan disampaikannya, suasana batinnya, serta latarbelakang faktor-faktor sosial dan lingkungan budayanya. Kemampuan pemilihan dan penempatan kata demikian penting dalam menulis puisi sehingga puisi yang ditulis tidak hambar seperti tulisan-tulisan prosa yang bersifat teknis.
Jenis-jenis Puisi
Bentuk-bentuk puisi yang dapat diajarkan kepada siswa dapat beragam. Selain bentuk-bentuk pusisi lama dan baru, para siswa dapt diajak berwisata melalui bentuk dan jenis puisi yang ada. Sebagai gambaran, berikut ini disajikan beberapa pengelompokkan yang dikemukakan oleh para ahli mengenai jenis dan bentuk puisi.
Bentuk-bentuk puisi yang dapat diajarkan kepada siswa dapat beragam. Selain bentuk-bentuk pusisi lama dan baru, para siswa dapt diajak berwisata melalui bentuk dan jenis puisi yang ada. Sebagai gambaran, berikut ini disajikan beberapa pengelompokkan yang dikemukakan oleh para ahli mengenai jenis dan bentuk puisi.
Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriftif
Pengelompokkan ini dikemukakan oleh Cleanth Brooke (dalam Walujo 1987 : 135-136) Menurutnya puisi naratif adalah puisi yang mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Bentuk puisi naratif diantaranya adalah epik, romansa, balada, dan syair dalam bentuk khazanah puisi lama. Sedangkan puisi lirik adalah puisi yang semat-mata menampilkan gagasan pribadinya. Puisi ini tidak bercerita meski pun di dalamnya penyair menggunakan lirik aku. Bentuk puisi lirik di antaranya adalah elegi, serenade, dan ode. Sementara itu, dalam puisi deskriftif penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan, peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik. Jenis puisi deskriftif antara lain adalah puisi-puisi satire, kritik social, dan puisi-pusi impresionistik.
Pengelompokkan ini dikemukakan oleh Cleanth Brooke (dalam Walujo 1987 : 135-136) Menurutnya puisi naratif adalah puisi yang mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Bentuk puisi naratif diantaranya adalah epik, romansa, balada, dan syair dalam bentuk khazanah puisi lama. Sedangkan puisi lirik adalah puisi yang semat-mata menampilkan gagasan pribadinya. Puisi ini tidak bercerita meski pun di dalamnya penyair menggunakan lirik aku. Bentuk puisi lirik di antaranya adalah elegi, serenade, dan ode. Sementara itu, dalam puisi deskriftif penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan, peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik. Jenis puisi deskriftif antara lain adalah puisi-puisi satire, kritik social, dan puisi-pusi impresionistik.
Contoh puisi jenis epik
Syair Perahu
Inilah gerangan suatu madah,
Mengarahkan syair terlalu indah,
Membetuli jalan tempat berpindah,
Di sanalah itu itikad dibeluti sudah.
Mengarahkan syair terlalu indah,
Membetuli jalan tempat berpindah,
Di sanalah itu itikad dibeluti sudah.
Wahai muda, kenali dirimu,
Ialah perahu tamsil tubuhmu,
Tiadalah berapa lama hidupmu,
Ke akhirat jua kekal diammu.
Ialah perahu tamsil tubuhmu,
Tiadalah berapa lama hidupmu,
Ke akhirat jua kekal diammu.
Hai muda arif budiman,
Hasilkan kemudi dengan pedoman,
Alat perahumu jua kerjakan,
Itulah jalan membetuli insan.
Hasilkan kemudi dengan pedoman,
Alat perahumu jua kerjakan,
Itulah jalan membetuli insan.
Puisi Fisikal, metafisikal, dan Platonik
Pengelompokkan selanjutnya didasarkan kepada sifat dan isi pusi sebagaimana yang dikemukakan oleh David Daiches (dalam Walujo, 1987 : 137-138) Ia mengemukakan puisi Fiskal adalah puisi yang bersifat realistis yang menggambarkan keadaan atau peristiwa apa adanya. Puisi Metafisikal adalah jenis puisi yang banyak menyiratkan nilai filosofis dan perenungan mengenai keagungan dan keesaan Tuhan. Puisi Metafisikal cenderung mengarah kepada bentuk puisi yang religius sehingga kerapkali menampilkan nilai dan sifat platonic, yaitu nilai pengabdian dan pemujaan yang tidak mengharapkan pamrih atau balasan apa pun. Puisi-puisi metafisikal dan puisi platonic banyak ditulis oleh penyair penyair kita seperti hamzah Fansuri, Amir Hamzah, Taufik Ismail, Emha Ainun Nadjib dan beberapa lainnya.
Contoh puisi fisikal
94
Tuhanku,
Jika tak tulus jiwaku
halangilah segala hasratku untuk pandai
dan mengerti kenyataan ini,
namun jika Kau lihat cukup ketulusanku
anugerahkan setetes ayat-Mu
agar menjadi tindakanku
94
Tuhanku,
Jika tak tulus jiwaku
halangilah segala hasratku untuk pandai
dan mengerti kenyataan ini,
namun jika Kau lihat cukup ketulusanku
anugerahkan setetes ayat-Mu
agar menjadi tindakanku
Tuhanku,
Di luar ketulusan hati
Bahasa-Mu tak kan disa kupahami
Kami mengembara ke hutan-hutan
Dikungkung kesombongan yang tak kami sadari
Tuhanku,
Seribu samudera ilmu-Mu
Jumlah tak terkira kesanggupan-Mu
Tidaklah kuimpikan
Cuma tumbuhkan kemampuanku
Di luar ketulusan hati
Bahasa-Mu tak kan disa kupahami
Kami mengembara ke hutan-hutan
Dikungkung kesombongan yang tak kami sadari
Tuhanku,
Seribu samudera ilmu-Mu
Jumlah tak terkira kesanggupan-Mu
Tidaklah kuimpikan
Cuma tumbuhkan kemampuanku
Menjadi setetes air
Bergabung di samudera itu
(Emha Ainun Nadjib,
99 untuk Tuhanku)
Bergabung di samudera itu
(Emha Ainun Nadjib,
99 untuk Tuhanku)
Puisi Transparan
Transparan artinya tembus pandang. Puisi transparan adalah puisi yang dapat dengan mudah ditangkap isinya karena bahasa yang digunakan dalam puisi itu mirip dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Akan tetapi penggunaan bahasa yang sederaha dalam puisi transparan ini tidak selamanya tidak memilki nilai sastra, mungkin saja bahasa yang digunakan penyair dalam puisi ini untuk lebih mendorong pembacanya dalam menangkap maksud yang tersembunyi di dalamnya. Puisi remaja dan anak-anak ini termasuk kedalam pengelompokkan puisi ini.
Transparan artinya tembus pandang. Puisi transparan adalah puisi yang dapat dengan mudah ditangkap isinya karena bahasa yang digunakan dalam puisi itu mirip dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Akan tetapi penggunaan bahasa yang sederaha dalam puisi transparan ini tidak selamanya tidak memilki nilai sastra, mungkin saja bahasa yang digunakan penyair dalam puisi ini untuk lebih mendorong pembacanya dalam menangkap maksud yang tersembunyi di dalamnya. Puisi remaja dan anak-anak ini termasuk kedalam pengelompokkan puisi ini.
Contoh puisi transparan
Gadis di Jalan Itu
Gadis di Jalan Itu
Ada gadis ayu di jalan itu
Berbaju dan bercelana membawa
Sebuah buku
Rambutnya berkibaran
Dan ia pun melangkah dengan cermat
Di aspalan, sepatunya yang tinggi berbunyi
Dan mataku
Oh mataku
Kuikuti dia
Dengan mataku
Sampai hilang di tikungan
(R. Rahardi, 1974
Sislsilah Garong)
Berbaju dan bercelana membawa
Sebuah buku
Rambutnya berkibaran
Dan ia pun melangkah dengan cermat
Di aspalan, sepatunya yang tinggi berbunyi
Dan mataku
Oh mataku
Kuikuti dia
Dengan mataku
Sampai hilang di tikungan
(R. Rahardi, 1974
Sislsilah Garong)
Puisi Prismatis
Puisi Prismatis adalah puisi yang mampu menyiratkan banyak penafsiran di dalamnya sehingga orang tidak dapat dengan mudah menangkap makna lain di luar makna atau maksud kata atau frase tersebut..
Adakalanya sebuah puisi sangat sarat dengan bahasa figuratif dan kata-kata yang sulit ditafsirkan sehingga makna puisi ini menjadi gelap, artinya puisi jenis ini tidak dapat ditafsirkan dengan cara bagaimanapun. Kadangkala penyairnya sendiri pun tidak mengetahui dengan pasti apa makna yang terkandung di dalam puisinya. Pusi-puisi gelap biasanya ditulis oleh penyair-penyair muda yang baru belajar menulis puisi.
Puisi Prismatis adalah puisi yang mampu menyiratkan banyak penafsiran di dalamnya sehingga orang tidak dapat dengan mudah menangkap makna lain di luar makna atau maksud kata atau frase tersebut..
Adakalanya sebuah puisi sangat sarat dengan bahasa figuratif dan kata-kata yang sulit ditafsirkan sehingga makna puisi ini menjadi gelap, artinya puisi jenis ini tidak dapat ditafsirkan dengan cara bagaimanapun. Kadangkala penyairnya sendiri pun tidak mengetahui dengan pasti apa makna yang terkandung di dalam puisinya. Pusi-puisi gelap biasanya ditulis oleh penyair-penyair muda yang baru belajar menulis puisi.
Contoh puisi prismatis
(Aku Berada Kembali)*
(Aku Berada Kembali)*
Aku berada kembali. Banyak yang asing:
Air mengalis tukar warna, kapal-kapal, elang-elang
Serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain:
Air mengalis tukar warna, kapal-kapal, elang-elang
Serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain:
Rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
Juga disinari matari
Lain
Juga disinari matari
Lain
Hanya
Kelengangan tinggal tetap saja,
Lebih lengang aku di kelak kelok jalan;
Lebih lengang pula ketika berada antara
Yang mengharap dan yang melepas.
Kelengangan tinggal tetap saja,
Lebih lengang aku di kelak kelok jalan;
Lebih lengang pula ketika berada antara
Yang mengharap dan yang melepas.
Telinga kiri masih terpaling
Ditarik gelisah yang ssebentar-sebentar seterang guruh.
Ditarik gelisah yang ssebentar-sebentar seterang guruh.
(Chairil Anwar, 1949)
Selain perbendaharaan yang lebih dari cukup, seorang penyair juga harus mampu mengembangkan daya sugesti kata yaitu sesuatu yang ditimbulkan oleh makna yang dipandang sangat tepat mewakili perasaan penyair. Bahasa figuratif adalah bahasa yang bersusun atau berpigura, bahasa ini banyak digunakan oleh penyair karena mampu menyiratkan makna luas dan dalam. Yang termasuk bahasa figuratif adalah gaya bahasa (majas), bentuk-bentuk pelambangan, serta ungkapan-ungkapan (idiom) khas milik penyair sendiri.
Manfaat Puisi
Apabila kita melihat kembali rumusan permasalahan di atas dan menghubungkannya dengan teori yang ada ternyata:
Siswa belum sepenuhnya menggunakan bahasa figuratif dalam keterampilan menulis untuk membuat karangan puisi.
Jenis karangan yang dibuat oleh siswa adalah puisi transparan.
Keterpaduan antara larik, bait dan keseluruhan puisi kurang tepat.
Hal tersebut menjadi acuan bagi penulis untuk melakukan penelitian tindakan kelas.
Apabila kita melihat kembali rumusan permasalahan di atas dan menghubungkannya dengan teori yang ada ternyata:
Siswa belum sepenuhnya menggunakan bahasa figuratif dalam keterampilan menulis untuk membuat karangan puisi.
Jenis karangan yang dibuat oleh siswa adalah puisi transparan.
Keterpaduan antara larik, bait dan keseluruhan puisi kurang tepat.
Hal tersebut menjadi acuan bagi penulis untuk melakukan penelitian tindakan kelas.
BAB III
METODE PENELITIAN
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian
Sesuai dengan rumusan serta tujuan penelitian metode yang digunakan adalah metode deskriftif, yaitu metode yang digunakan untuk mencari informasi faktual yang mendetatil yang mementingkan gejala yang ada.
Sesuai dengan rumusan serta tujuan penelitian metode yang digunakan adalah metode deskriftif, yaitu metode yang digunakan untuk mencari informasi faktual yang mendetatil yang mementingkan gejala yang ada.
Teknik yang digunakan teknik tes menulis puisi yang digunakan untuk menggali data kemampuan siswa dalam karangan.
Instrumen penelitian yang digunakan terdiri atas tes membuat karangan puisi. Kriteria penilaian karangan puisi siswa didasarkan pada:
Pemilihan tipografi puisi.
Diksi atau pilihan kata yang meliputi
Penggunaan kat-kata konkret.
Penggunaan majas
Pengimajian
Esensi puisi
Instrumen penelitian yang digunakan terdiri atas tes membuat karangan puisi. Kriteria penilaian karangan puisi siswa didasarkan pada:
Pemilihan tipografi puisi.
Diksi atau pilihan kata yang meliputi
Penggunaan kat-kata konkret.
Penggunaan majas
Pengimajian
Esensi puisi
Lokasi dan Subjek Penelitian
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SD Negeri Ibu Jenab 2 sedangkan sample yang diambil adalah kelas IV dengan jumlah siswa sebanyak .. (..) orang.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah data kualitatif berupa hasil penelitian terhadap kemampuan menulis karangan puisi siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan format-format hasil modifikasi dalam penilaian kemampuan menulis karangan puisi
Prosedur Penelitian
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SD Negeri Ibu Jenab 2 sedangkan sample yang diambil adalah kelas IV dengan jumlah siswa sebanyak .. (..) orang.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah data kualitatif berupa hasil penelitian terhadap kemampuan menulis karangan puisi siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan format-format hasil modifikasi dalam penilaian kemampuan menulis karangan puisi
Prosedur Penelitian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Strategi pembelajaran adalah rancangan umum kegiatan atau perbuatan untuk menentukan proses pembelajaran yang di dalamnya termuat rancangan materi pelajaran serta rentetan perbuatan guru-siswa yang menyebabkan siswa dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sehingga terjadi perubahan tingkah laku siswa.
Strategi pembelajaran menulis kreatif puisi adalah rancangan umum pembelajaran menulis puisi yang memuat langkah-langkah atau pola yang digunakan dalam menentukan proses-proses belajar menulis kreatif puisi. Rancangan pembelajaran ini memuat materi pelajaran serta prosedur pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tertentu dan metode tertentu.
Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran menulis kreatif ini adalah pendekatan integral dengan menerapkan metode komunikatif. Skenario pembelajaran yang dikembangkan sebagai siklus pertama adalah sebagai berikut.
Mula-mula siswa menyimak penjelasan guru mengenai karya-karya kreatif berbentuk puisi.
Siswa membaca dalam hati contoh jenis puisi yang sedang dipelajari.
Kemudian siswa membuat karangan puisi sesuai dengan pengalamannya.
Setelah selesai, satu atau dua orang siswa ditugaskan untuk membacakan karyanya.
Mula-mula siswa menyimak penjelasan guru mengenai karya-karya kreatif berbentuk puisi.
Siswa membaca dalam hati contoh jenis puisi yang sedang dipelajari.
Kemudian siswa membuat karangan puisi sesuai dengan pengalamannya.
Setelah selesai, satu atau dua orang siswa ditugaskan untuk membacakan karyanya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pembelajaran ini.
Pemilihan bahan pembelajaran disesuaikan dengan tuntutan kurikulum
Materi yang dipilih terutama adalah materi-materi yang akan membuat siswa berkomunikasi (lisan maupun tertulis)
Bahan-bahan otentik sangat disarankan diambil dari majalah, surat kabar atau antolog puisi.
Ragam bahasa yang digunakan dalam pembelajaran diupayakan beragam, baku maupun nonbaku.
Prosedur pembelajaran adalah langkah-langkah penyajian pembelajaran yang mampu memberikan peranan sangat mendasar dalam meningkatkan aktifitas mental siswa. Prosedur pembelajaran berkaitan erat dengan model pembelajaran yang memungkinkan terjadinya aktiIVitas siswa secara optimal dalam menciptakan karya puisi.
Pemilihan bahan pembelajaran disesuaikan dengan tuntutan kurikulum
Materi yang dipilih terutama adalah materi-materi yang akan membuat siswa berkomunikasi (lisan maupun tertulis)
Bahan-bahan otentik sangat disarankan diambil dari majalah, surat kabar atau antolog puisi.
Ragam bahasa yang digunakan dalam pembelajaran diupayakan beragam, baku maupun nonbaku.
Prosedur pembelajaran adalah langkah-langkah penyajian pembelajaran yang mampu memberikan peranan sangat mendasar dalam meningkatkan aktifitas mental siswa. Prosedur pembelajaran berkaitan erat dengan model pembelajaran yang memungkinkan terjadinya aktiIVitas siswa secara optimal dalam menciptakan karya puisi.
Model pembelajaran yang dikemukakan oleh William J.J.Gordon menyarankan penggunaan tiga teknik yang saling berkaitan, yaitu analog personal, analogi langsung, dan konflik kempaan.
Analog personal memungkinkan siswa mengidentifikasikan unsur-unsur masalah; siswa diminta untuk merankan bagaimana jika ia seorang penyair.
Analog personal memungkinkan siswa mengidentifikasikan unsur-unsur masalah; siswa diminta untuk merankan bagaimana jika ia seorang penyair.
Analogi langsung, disini kondisi problema nyata dijajarkan satu sama lain dalam situasi parallel; misalnya siswa diminta menganalgikan dirinnya dengan situasi seorang penyair ketika ia sedang menciptakan sebuah karya puisi.
Konflik kempaan mempertahankan dua sudut pandang yang berbeda sehingga siswa memahami objek dari dua kerangka berfikir. Misalnya antara diri siswa sendiri dan pandangan guru, pandangan penyair, pandangan kritisi.
Konflik kempaan mempertahankan dua sudut pandang yang berbeda sehingga siswa memahami objek dari dua kerangka berfikir. Misalnya antara diri siswa sendiri dan pandangan guru, pandangan penyair, pandangan kritisi.
Setelah siswa menulis karangan puisi, maka lembaran tersebut dijadikan bahan pengamatan bagi peneliti untuk mendapatkan suatu penilaian.
Penilaian terhadap hasil menulis kreatif karya puisi siswa ditekankan kepada aspek-aspek yang diharapkan dapat mewakili seluruh aspek sastra dan nonsastra. Kriteria yang ditawarkan untuk menilai karangan fiksi siswa disusun dalam format penilaian sebagai berikut.
Penilaian terhadap hasil menulis kreatif karya puisi siswa ditekankan kepada aspek-aspek yang diharapkan dapat mewakili seluruh aspek sastra dan nonsastra. Kriteria yang ditawarkan untuk menilai karangan fiksi siswa disusun dalam format penilaian sebagai berikut.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai kemampuan membuat karangan puisi di Kelas IV SDN Ibu Jenab 2 adalah sebagai berikut.
Berdasarkan pembuatan karangan puisi siswa SD Negeri Ibu Jenab 2 belum bisa secara optimal mengembangkan daya imajinasinya untuk mengarang puisi.
Berdasarkan hasil penelitian mengenai kemampuan membuat karangan puisi di Kelas IV SDN Ibu Jenab 2 adalah sebagai berikut.
Berdasarkan pembuatan karangan puisi siswa SD Negeri Ibu Jenab 2 belum bisa secara optimal mengembangkan daya imajinasinya untuk mengarang puisi.
Saran
Beberapa saran yang dapat dikemukakan dalam hal mengembangkan apresiasi sastra, yang diharapkan akan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam hal keterampilan membaca, dan menulis karangan puisi adalah sebagai berikut.
Pihak sekolah selayaknya menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler sastra dengan cara membentuk sanggar sastra yang terprogram secara khusus dan efektif.
Beberapa saran yang dapat dikemukakan dalam hal mengembangkan apresiasi sastra, yang diharapkan akan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam hal keterampilan membaca, dan menulis karangan puisi adalah sebagai berikut.
Pihak sekolah selayaknya menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler sastra dengan cara membentuk sanggar sastra yang terprogram secara khusus dan efektif.
Kegiatan-kegiatan lomba menulis puisi serta lomba-lomba membaca puisi sebaiknya dianjurkan untuk diikuti siswa agar para siswa memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam hal mengapresiasi karya sastra, khususnya puisi.
Perpustakaan sekolah sangat memegang peranan penting dalam memperluas cakrawala pengetahuan siswa, tidak terkecuali dalam hal pengembangan wawasan sastra siswa. Oleh sebab itu perpustakaan sekolah selayaknya dilengkapi pula dengan karya-karya sastra mutakhir dewasa ini yang sangat banyak memiliki corak perkembangan baru yang bermanfaat bagi pengembangan wawasan siswa.
Peranan majalah dinding sebaiknya lebih ditingkatkan denmgan mengakomodasikan karya-karya siswa sehingga diharapkan akan mampu memotivasi secara sadar untuk berkarya sastra.
Para siswa sebaiknya dirangsang untuk berkarya menulis puisi dan menerbitkannya dalam bentuk antologi puisi siswa untuk diapresiasi oleh seluruh siswa.
Peranan majalah dinding sebaiknya lebih ditingkatkan denmgan mengakomodasikan karya-karya siswa sehingga diharapkan akan mampu memotivasi secara sadar untuk berkarya sastra.
Para siswa sebaiknya dirangsang untuk berkarya menulis puisi dan menerbitkannya dalam bentuk antologi puisi siswa untuk diapresiasi oleh seluruh siswa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar