PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MELALUI PMRI PADA SISWA KELAS 6 SD
Ihat Solihat
SD Negeri Ibu Jenab 2, Jl.Moh Ali No. 55, Cianjur; ihatsolihat63@gmail.com
Abstrak. Bentuk soal cerita yang ada pada soal MIPA dan ujian, merupakan bentuk yang sulit diselesaikan oleh siswa.Hal ini disebabkan karena siswa lemah dalam pemahaman konsep dan tingkat keterbacaan materi.Konsep hanya diberikan berupa hapalan sehingga siswa menghadapi kesulitan ketika mengerjakannya.
Hal tersebutlah yang menjadi dasar dilakukannya penelitian.Dalam penelitian dilakukan beberapa tahap. Pada tahap observasi siswa menyelesaikan soal cerita dengan materi bilangan bulat yang diberikan secara tertulis, nilai yang didapat siswa hanya mencapai rata-rata 61,37, sedangkan nilai KKM adalah 75. Selanjutnya dilakukan siklus I yang berbeda perlakuannya. Siswa melakukan penghitungan debit dari soal cerita yang ada dan peragaan langsung, rata-rata nilai yang didapat adalah 64,29. Karena nilai belum memuaskan, dilakukan siklus II.Pada siklus II siswa menghitung bangun datar dan bangun ruang.Konsep tentang luas dan keliling dipelajari secara langsung, siswa mencari dan menghitung bangun datar dan bangun ruang yang ada di sekitar sekolah. Nilai yang dicapai pada siklus II ini rata-rata 78,39. Diantara kedua siklus terjadi kenaikan nilai yaitu 14,11%. Selain terlihat kenaikan nilai juga dilakukan wawancara dan pemberian angket.Hasilnya siswa senang dan mengerti materi pembelajaran.Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran yang dilakukan dengan PMRI dapat meningkatkan keterampilan menyelesaikan soal cerita.
Kata Kunci. PMRI, Soal Cerita, bilangan bulat, debit, bangun datar, dan bangun ruang
1. Pendahuluan
Lomba Olympiade MIPA diselenggarakan setiap tahun pada bidang Matematika dan IPA.Lomba akademik yang selalu dinantikan karena merupakan salah satu ajang prestasi secara rutin.Pelaksanaannya mulai dari tingkatan sekolah dasar sampai menengah. Lomba yang membawa nama baik sekolah untuk mencapai prestasi dan prestise. Namun tentu saja hal tersebut tidak bisa begitu saja dapat diraih.Peserta MIPA harus menyelesaikan soal-soal yang diberikan.Soal yang berbentuk soal cerita, dan biasanya merupakan soal cerita Matematika Realistik dan mempunyai ranah pengetahuan yang tinggi.Soal cerita selain dalam lomba MIPA juga diberikan dalam soal Ujian Sekolah.Soal diberikan untuk mengukur kemampuan dalam mata pelajaran Matematika selama belajar di tiap satuan tingkatan.Namun antara lomba MIPA dan Ujian sekolah mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda.Soal cerita dalam MIPA tingkat kesulitannya lebih tinggi dan memerlukan siswa yang mempunyai bakat serta kemampuan yang tinggi agar bisa menjawab soal tersebut.
Soal cerita merupakan soal yang mempunyai bobot yang berbeda dengan soal pilihan ganda.Dalam soal cerita siswa diajak untuk berfikir agar bisa mengerti arah persoalan yang diberikan.Siswa juga harus bisa memahami kalimat-kalimat yang diberikan dalam soal tersebut. Tingkat keterbacaan dari seorang siswa akan diuji. Pemahaman terhadap soal akan terukur sehingga semakin tinggi tingkat kesulitan maka akan menjadi penyebab siswa tidak mampu untuk menyelesaikannya. Namun semakin sering siswa menghadapi soal cerita, kemungkinan akan semakin paham dia dalam menyelesaikan soal cerita.
Tingkat kesulitan yang tinggilah sehingga siswa dalam menghadapi soal cerita kadang tidak bisa menyelesaikannya.Namun bila siswa mengerti konsep dasar dan tinggi tingkat keterbacaannya tentu saja tidak sulit.Tapi tidak semua siswa mempunyai tingkat pemahamahan yang tinggi.Untuk itu siswa harus dibiasakan menghadapi soal cerita.Sehingga pemahamannya terhadap kalimat matematika yang disajikan siap dihadapi.Hal tersebut yang menjadi dasar diadakannya penelitian.Berdasarkan hal tersebut maka muncullah permasalahan yaitu (1) Bagaimanakan cara meningkatkan keterampilan pembelajaran Matematika khususnya dalam menyelesaikan soal cerita pada siswa kelas 6 SD Negeri Ibu Jenab 2 Cianjur? (2) Bagaimanakah penerapan keterampilan menyelesaikan soal cerita dalam pembelajaran Matematika melalui PMRI pada siswa kelas 6 SD Negeri Ibu Jenab 2? (3)Seberapa besar peningkatan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita dengan menerapkan PMRI bagi siswa kelas 6 SD Negeri Ibu Jenab 2 Cianjur?
2. Kajian Teori
2.1. Soal Cerita
Menurut Wijaya (2008:4) soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan mudah dipahami.Sedangkan menurut Raharjo dan Astuti (20011:8) mengatakan bahwa soal cerita yang terdapat dalam matematika merupakan persoalan-persoalan yang terkait dengan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dicari penyelesaiannya dengan menggunakan kalimat matematika.Kalimat matematika yang dimaksud dalam pernyataan tersebut adalah kalimat matematikayang memuat operasi-operasi bilangan.
Pedoman Umum Matematika Sekolah Dasar (1983), dalam Marsudi dkk. (Bermutu, 2:2009) langkah-langkah penyelesaian soal cerita, yaitu: (1) membaca soal dan memikirkan hubungan antara bilangan-bilangan yang ada dalam soal, (2) menuliskan kalimat matematika, (3) menyelesaikan kalimat matematika, dan (4) menggunakan penyelesaian untuk menjawab pertanyaan.
Masih oleh Marsudi dkk. (Bermutu, 2:2009) dikatakan bahwa untuk menyelesaikan soal matematika umumnya dan terutama soal cerita dapat ditempuh langkah-langkah: (1) membaca soal dengan cermat untuk menangkap makna tiap kalimat, (2) memisahkan dan mengungkapkan apa yang diketahui dalam soal, apa yang diminta/ditanyakan dalam soal, operasi pengerjaan apa yang diperlukan, (3) membuat model matematika dari soal, (4) menyelesaikan model menurut aturan-aturan matematika sehingga mendapatkan jawaban dari model tersebut, dan (5) menuliskan jawaban akhir
Menurut Bruner dalam Marsudi dkk. (Bermutu, 7:2009) jika suatu topic dalam pembelajaran (khususnya matematika) bersifat baru, maka langkah-langkah pembelajarannya harus dimulai dari enactive, econic, dan symbolics.Sedangkan menurut Marsudi (Bermutu, 8:2009) selain RPP adalah (1) Kegiatan konkret, (2) Kegiatan Semi Konkret, (3) Kegiatan tahap abstrak.
2.2. PMRI
Prinsip utama dalam Pendidikan Matematika Realistik (PMR) menurut Gravemeijer (1994:90) adalah sebagai berikut. (1) Guided Reinvention dan progressive mathematization (Penemuan kembali terbimbing dan matematisasi progresif); (2) Didactial phenomenology (Fenomenologi Didaktis); (3) Self developed models (Mengembangkan model sendiri).
Sedangkan Den Heuvel-Panhuizen (1996) merumuskan prinsip PMR sebagai berikut. (1) Prinsip aktivitas, yaitu bahwa matematika adalah aktivitas manusia.(2) Prinsip realitas, yaitu pembelajaran seyogianya dimulai dengan masalah-masalah yang realistik bagi siswa, (3) Prinsip berjenjang, artinya dalam belajar matematia siswa melewati berbagai jenjang pemahaman (3) Prinsip jalinan, artinya berbagai aspek atau topik dalam matematika jangan dipandang dan dipelajari sebagai bagian-bagian yang terpisah, (4) Prinsip interaksi, yaitu matematika dipandang sebagi aktifitas social,(5) Prinsip bimbingan, yaitu siswa perlu diberikan kesempatan untuk “menemukan kembali (re-invent)” pengetahuan matematika ‘terbimbing’.
Adapun langkah-langkah PMR terdiri dari (1) langkah memahami masalah kontekstual, (2) langkah menjelaskan masalah kontekstual, (3) Langkah menyelesaikan masalah kontekstual, (4) langkah membandingkan dan mendiskusikan jawaban, dan (5) langkah meyimpulkan.
Kartakteristik PMR adalah menggunakan konteks ‘dunia nyata’ ,model-model, produksi dan konstruksi siswa, interaktif dan keterkaitan (intertwinment) oleh Treeffers dalam Sudharta (2004).
Implementasi Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) yaitu pembelajaran matematika realistik diawali dengan dunia nyata, agar dapat memudahkan siswa dalam belajar matematika, kemudian siswa dengan bantuan guru diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri konsep-konsep matematika. Setelah itu, diaplikasikan dalam masalah sehari-hari atau dalam bidang lain.
Pendidikan Matematika Realistik Indonesia adalah pendekatan pembelajaran yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut.(1) Menggunakan masalah kontekstual, yaitu matematika dipandang sebagai kegiatan sehari-hari manusia, sehingga memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi atau dialami oleh siswa (masalah kontekstual yang realistik bagi siswa) merupakan bagian yang sangat penting. (2) Menggunakan model, yaitu belajar matematika berarti bekerja dengan alat matematis hasil matematisasi horisontal. (3) Menggunakan hasil dan konstruksi siswa sendiri, yaitu siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematis, di bawah bimbingan guru.(4) Pembelajaran terfokus pada siswa (5)Terjadi interaksi antara murid dan guru, yaitu aktivitas belajar meliputi
kegiatan memecahkan masalah kontekstual yang realistik, mengorganisasikan pengalaman matematis, dan mendiskusikan hasil-hasil pemecahan masalah tersebut. (Suryanto dan Sugiman, 2003: 6).
2.3. Alat Peraga
Menurut Estiningsih dalam Pemanfaatan Alat Peraga Matematika dalam Pembelajaran di SD (6:2009) mengatakan alat peraga merupakan media pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri konsep yang dipelajari.Fungsi utama alat peraga adalah untuk menurunkan keabstrakan dari konsep, agar anak mampu menangkap arti sebenarnya dari konsep yang dipelajari.Dengan melihat, meraba, dan memanipulasi alat peraga maka anak mempunyai pengalaman nyata dalam kehidupan tentang arti konsep. Sedangkan sarana merupakan media pembelajaran yang fungsi utamanya sebagai alat bantu untuk melakukan pembelajaran;
Sukayati (2009) menyatakan bahwa tujuan alat peraga adalah sebagai berikut (1) Memberikan kemampuan berpikir matematika secara kreatif. Bagi sebagian anak, matematika tampak seperti suatu sistem yang kaku, yang hanya berisi simbol-simbol dan sekumpulan dalil-dalil untuk dipecahkan. Padahal sesungguhnya matematika memiliki banyak hubungan untuk mengembangkan kreatifitas. (2) Mengembangkan sikap yang menguntungkan ke arah berpikir matematika. Suasana pembelajaran matematika di kelas haruslah sedemikian rupa, sehingga para peserta didik dapat menyukai pelajaran tersebut. Suasana semacam ini merupakan salah satu hal yang dapat membuat para peserta didik memperoleh kepercayaan diri akan kemampuannya dalam belajar matematika melalui pengalaman-pengalaman yang akrab dengan kehidupannya. (3) Menunjang matematika di luar kelas, yang menunjukkan penerapan matematika dalam keadaan sebenarnya. Peserta didik dapat menghubungkan pengalaman belajarnya dengan pengalaman-pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan keterampilan masing-masing mereka dapat menyelidiki atau mengamati benda-benda di sekitarnya, kemudian mengorganisirnya untuk memecahkan suatu masalah.(4)Memberikan motivasi dan memudahkan abstraksi. Dengan alat peraga diharapkan peserta didik lebih memperoleh pengalaman-pengalaman yang baru dan menyenangkan, sehingga mereka dapat menghubungkannya dengan matematika yang bersifat abstrak.
Dari tujuan di atas diharapkan dengan bantuan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran dapat memberikan permasalahan-permasalahan menjadi lebih menarik bagi anak yang sedang melakukan kegiatan belajar. Karena penemuan-penemuan yang diperoleh dari aktivitas anak biasanya bermula dari munculnya hal-hal yang merupakan tanda tanya, maka permasalahan yang diselidiki jawabannya itu harus didasarkan pada obyek yang menarik perhatian anak. Jadi bila memungkinkan hal itu haruslah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengarah pada bahan diskusi dalam berbagai cabang penyelidikan, misalnya dari buku, dari guru atau bahkan dari anak sendiri.Hal itu dapat ditentukan melalui peragaan dari guru dan diskusi yang melibatkan seluruh kelas atau oleh kelompok kecil/seorang anak yang bekerja dengan lembar kerja. Dengan menggunakan suatu lembar kerja, mereka dapat menggunakan bahan-bahan yang dirancang untuk mengarahkan dalam menjawab pertanyaan yang akan membantu mereka menemukan suatu jawaban yang dimaksudkan pada arti pertanyaannya. Oleh karena itu sebaiknya setiap alat peraga dilengkapi dengan kartu-kartu atau lembar kerja atau petunjuk penggunaan alat untuk menjawab permasalahan
2.4. Materi Matematika SD
Kelas VI, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Bilangan Melakukan operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masalah 1.1 Menggunakan sifat-sifat operasi hitung termasuk operasi campuran, FPB dan KPK
1.2 Menentukan akar pangkat tiga suatu bilangan kubik
1.3Menyelesaikan masalah yang melibatkan operasi hitung termasuk penggunaan akar dan pangkat
2. Geometri dan Pengukuran Menggunakan pengukuran volume per waktu dalam pemecahan masalah 2.1 Mengenal satuan debit
2.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan satuan debit
3. Menghitung luas segi banyak sederhana, luas lingkaran, dan volume prisma segitiga 3.1 Menghitung luas segi banyak yang merupakan gabungan dari dua bangun datar sederhana
3.2 Menghitung luas lingkaran
3.3 Menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran
Pengolahan Data
4. Mengumpulkan dan mengolah data 4.1 Mengumpulkan dan membaca data
4.2 Mengolah dan menyajikan data dalam bentuk tabel
4.3 Menafsirkan sajian data
3. Metodologi Penelitian
3.1. Pelaksanaan Penelitian
Seperti penelitian lain penelitian ini menggunakan prosedur dari langkah-langkah PTK Model Kemmis dan Mc Taggart. Menurut Kemmis dan Mc Taggart dalam Penelitian Tindakan Kelas di SD (Sukajati: 2008) penelitian tindakan dapat dipandang sebagai suatu siklus spiral dari penyusunan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi yang selanjutnya diikuti dengan siklus spiral berikutnya. Alur pelaksanaan PTK dapat kita lihat dalam diagram di bawah.
Diagram 3.1 Diagram Alur PTK Model Kemmis dan Mc Taggart
4. Pembahasan
Kegiatan pembelajaran Matematika di kelas 6A, SD Negeri Ibu Jenab 2 Cianjur dilaksanakan setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat.Pembelajaran Matematika sesuai dengan SK/KD Kurikulum 2006.Dalam mata pelajaran Matematika terdapat KD menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Bentuk soalnya dengan soal cerita, diberikan di pembelajaran terakhir setiap bab. Materi diberikan setelah siswa menguasai sebuah konsep.
Ketika materi dengan bentuk soal cerita diberikan banyak siswa bertanya tentang cara penyelesaiannya. Siswa ada yang belum memahami cara menyelesaikan soal cerita. Ada beberapa siswa yang belum bisa memahami isi dari soal cerita. Siswa belum bisa memisahkan masalah yang diketahui, ditanyakan, dan juga bagaimana cara menjawab permasalah.
Tanggal 23 Agustus 2016 observasi dilakukan dengan materi bilangan bulat.Materi diberikan sesuai dengan Silabus yang telah dibuat.Observasi dilakukan sesuai dengan beberapa tahap.Pada tahap perencanaan, guru membuat RPP, siswa mengikuti pembelajaran.Dalam kegitan inti, pelaksanaan pembelajaran diberikan dengan metode penugasan.Siswa diberikan tugas menyelesaikan soal cerita yang ada dalam buku paket.Sebelumnya siswa telah diberikan materi tentang bilangan bulat.Pembelajaran dilaksanakan secara individu, siswa mengerjakan soal. Guru berkeliling ke kelas untuk memeriksa dan membimbing siswa yang memerlukan bantuan. Beberapa siswa bertanya tentang cara menyelesaikan soal cerita. Guru memberikan bantuan dan menerangkan cara menyelesaikannya. Dari lima soal yang diberikan memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikannya.
Hasil dari pertemuan I belum mencapai KKM mata pelajaran Matematika yaitu 75.Maka dilakukan pertemuan kedua yaitu tanggal 31 Agustus 2016.Pelaksanaan pembelajaran diberikan sesuai dengan RPP yang telah dipersiapkan. Hasil dari pertemuan kedua ini ada sedikit kenaikan nilai
Hasil dari observasi, maka penulis mempersiapkan untuk melakukan tindakan siklus I. siklus I dilakukan pada tanggal 13 September 2016.Dilakukan perlakuan dengan pendekatan PMRI yang tertuang dalam RPP.Siswa melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan.
Pertemuan kedua pada siklus I, dilakukan pada tanggal 16 September 2016. Dilakukan perlakuan yang sama dengan PMRI, karena hasil dari pertemuan pertama belum mencapai KKM.
Karena hasil pada siklus I belum mencapai nilai KKM.Maka dilakukan Siklus ke II. Pelaksanaan dilakukan pada tanggal 18 Oktober 2016 untuk pertemuan pertama dan 28 Oktober 2016 untuk pertemuan kedua.
5. Simpulan dan Saran
Simpulan dari artikel ini adalah (1) keterampilan menyelesaikan soal cerita dapat ditingkatkan melalui PMRI, khususnya pada kelas 6 SD Negeri Ibu Jenab 2 Cianjur, (2) penerapan keterampilan menyelesaikan soal cerita dalam pembelajaran Matematika melalui PMRI pada siswa kelas 6 SD Negeri Ibu Jenab 2 Cianjur dilakukan ketika siswa mempunyai masalah dalam menyelesaikan soal cerita, (3) terlihat adanya peningkatan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita, siklus I dengan rata-rata 64,29 , siklus II diperoleh nilai rata-rata 78,39 sehingga terlihat adanya peningkatan yaitu sekitar 14,11.
Saran bagi guru pada umumnya agar dapat menerapkan pendekatan PMRI ini ketika melakukan pembelajaran Matematika.Karena dengan PMRI siswa dapat belajar dengan meyenangkan dan mendapatkan hasil penilaian yang tinggi.
6. Ucapan Terimakasih
Penelitian ini tidak akan selesai bila penulis tidak mendapat bimbingan, baik itu secara langsung ataupun tidak. Untuk itu penulis mengucapkan setinggi-tingginya rasa terimakasih kepada pimpinan P4TK beserta jajarannya, kepada para fasilitator yang sabar menghadapai kami.Khususnya pembimbing kami Ibu DR. Supinah. Semoga semua kebaikan yang diberikan akan selalu mendapat balasan dari yang Maha Kuasa.
Daftar Pustaka
FermatF.A., Newton S. J., danArchimedes. 2007.Pembelajaran yang Mengasyikkan.Yogyakarta: PPPPTK Matematika.
Pythagoras G. dan Khwarizmi. 1998. Mengapa Takut Belajar Matematika?.Jurnal Pendidikan Matematika, 76, 246-258.
Dhoruri, Atmini, MS. Pembelajaran Matematikan dengan Pendekatan Matematika Realistik (PMR). Yogyakarta.
Gravemeijer Koeno. 1994. Developing Realistic Mathematics Education. Technipress Culemborg.
- Context Free Productions Tests and Geometry in Realistic Mathematics Education. The Netherlands. Technipress Culemborg.
Hadi Sutarto. 2002. Effective teacher professional Development for The Implementation of realistic Mathematics Education in Indonesia. Enschede. PrintPartners Ipskamp.
Hartanti Yusuf. Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. …….
Marpaung Y. Karakteristik PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia). www.p4mriusd.blogspot.com
Runtukahu Tombokan. 2014. Pembelajaran Matematika Dasar Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Yogyakarta. Ar Ruzz Media.
Raharjo Marsudi. Ekawati Estina. Rudianto Yudom. 2009. Modul Matematika SD Program BERMUTU Pembelajaran Soal Cerita di SD. Yogyakarta. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan tenaga Kependidikan(PPPPTK) Matematika.
Sembiring K Robert. 2010. PMRI Perkembangan dan Tantangannya. IndoMS. J.M.E. Vol. 1 No. 1 Juli 2010,pp. 11-16
Sukaryati. Suharjana Agus. 2009. Modul Matematika SD Program BERMUTU Pemanfaatan Alat PEraga Matematika dalamPembelajaran di SD. Yogyakarta. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan tenaga Kependidikan(PPPPTK) Matematika.
Supinah. D.W.Agus. 2009. Modul Matematika SD Program BERMUTU Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. Yogyakarta. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan tenaga Kependidikan(PPPPTK) Matematika.
Wijaya Ariyadi. 2012. Pendidikan Matematika Realistik; Suatu Alternatif Pendekatan Pembelajaran Matematika. Yogyakarta. PT Graha Ilmu.
Widyastuti Sri 2014. PMRI Terhadap Pemahaman Konsep Dan Kemampuan Berpikir Logis. Yogyakarta. Lingkungan sendiri UNY.
Wulandari.
http://eprints.uny.ac.id81131P%20-%2058.pdf.pdf
http://eprints.ung.ac.id55532013-2-86206-151409481-bab2-12012014123324.pdf




Tidak ada komentar:
Posting Komentar