Senja di lima belas hari
Hari ini tanggal 20 Mei 2019, kita peringati sebagai hari Kebangkitan Nasional.
Bertemu teman sejawat yang sedikit agak kuragukan kesetiaannya. Yee.... lebay.com
Ya Rabb, maafkan kata hatiku ini.
Maafkan atas kelalaianku menilai seseorang.
Tiga puluh menitan momen upacara dilaksanakan dengan khidmat.
Barisan tentara lengkap dengan senjatanya berdiri tepat di hadapan barisanku. Ketika mendengar komando hormat senjata dan pasang sangkur, serempak mereka lakukan. Sempurna. Semuanya membuatku memberikan acungan jempol.
Mantap Mas. Mungkin itu hasil latihan, sehingga keseragaman dan refleksi gerakan sangat begitu serempak.
Dengan khidmat setiap urutan kegiatan dilakukan berlangsung silih berganti.
Walau sesekali panas dan angin silih berganti menerpa peserta.
Gebug! Tiba-tiba, salah seorang peserta terjatuh.
Ya Allah, suaranya begitu keras ketika alunan do'a diuraikan.
Serentak beberapa orang membantu mengangkatnya.
Upacara tetap berlangsung, hingga berakhir dengan deklarasi dan penandatanganan komitmen kawasan tanpa asap rokok.
Pak plt Bupati membacakan yang diikuti oleh semua yang hadir. Dan diakhiri dengan menandatangàni komitmen yang sesuai dengan Perda No. 3 Tahun 2015.
Ups, sudah lama juga ya perdanya lahir. Namun aplikasi penerapannya masih belum terbiasa.
Tapi sih sebenarnya, andai kita sadar akan perlunya udara bersih untuk kesehatan. Tak perlu perda, yang harus tertanam adalah kesadaran diri masing-masing. Mungkin itu tujuan akhirnya. Membuat kota tercinta bersih dari polusi udara.
Serangkaian acara ditutup dengan adanya pemeriksaan gratis. Kelihatannya beberapa peserta tertarik untuk diperiksa. Tapi bagiku, melihat sangkar burung di halaman pendopo lebih menarik.
Akhirnya, peserta upacara bubar tuk meneruskan aktivitasnya di tempat masing-masing. Seperti diriku akhirnya kembali ke sekolah.
Di sekolah bertemu dengan seseorang. Heu, mukanya tak berseri, tak punya senyum.
Hadeuh, hari yang indah di hari Kebangkitan, masih saja ada wajah-wajah yang tak berkesatuan dan harmonis dengan pagi yang hangat.
Senyum itu indah Pak.
Tapi mungkin senyummu akan sangat mahal untuk dihadiahkan di hari kelima belas ramadan pada seraut wajah ini.
Istigfar Pak, bilakah senyum mu mungkin akan menjadi berlian di siang hari?
Namun senyum mu tak hadir jua, tak seperti kerang yang tak pernah kekeringan oleh senyumannya yang lebar.
Hehe, okelah, asalnya tak kenal, tak disapa dirimu pun tak jadi melemahkan semangat kerjaku.
Di hari Kebangkitan yang ke-111 ini, mencoba mengingatkan kembali pada perjuangan ku untuk pertiwi.
Seperti ku lihat pucuk-pucuk dedaunan yang menaungi pada panasnya matahari yang sesekali menembus melalui celah-celah daun yang tertiup angin pagi.
Semakin tinggi keberadaan daun, maka semakin kencang angin yang datang.
Begitu pula baktiku untukmu Indonesiaku.
Ku coba untuk bermanfaat untuk lingkungan kecilku dimana kakiku kujejakkan.
Di hari ke lima belas ini, tepat di hari Kebangkitan Nasional yang ke-111, ku ucapkan sepatah kata dalam hati.
Jangan goyah bakti padamu Negeri, Indonesiaku, Indonesia kita, Indonesia tanah Pertiwi.
Inilah senjaku, sesaat berharap moment ini selalu kuingat, banyak makna di lima belas hari ramadan.
Suasana Upacara Hari Kebangkitan Nasional (dokpri)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar