Literasi Mengantar Siswa Membentuk Jiwa Literat Di SD Negeri Ibu Jenab 2 Cianjur Jawa Barat


Tujuan pendidikan nasional merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia. Tujuan tersebut menjadi dasar dalam pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter dengan berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan kebudayaan Indonesia. Pembangunan karakter yang merupakan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Pendidikan karakter menjadi isu utama pendidikan dan diharapkan menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, dan menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia emas 2025. 


Hal tersebut sebuah konsensus yang diperjelas melalui UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”.

Pendidikan karakter menekankan pada tumbuhnya sikap bermakna dalam kehidupan social peserta didik. Untuk menumbuh kembangkan nilai-nilai karakter positif maka pada tahun ajaran 2015/2016, Kemdikbud mencanangkan gerakan penumbuhan Budi Pekerti melalui serangkaian kegiatan non kurikuler, yaitu rangkaian kegiatan harian dan periodic wajib maupun pilihan, seperti tertuang dalam Permendikbud tentang Penumbuhan Budi Pekerti Nomor 23 Tahun 2015.

Budi pekerti luhur yang diharapkan dapat tumbuh dan menjadi suatu budaya dalam diri peserta didik. Untuk memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti pemerintah meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah. Dalam GLS dituangkan alur pembudayaan, pertama diajarkan, dibiasakan, dilatih konsisten, menjadi kebiasaan, menjadi karakter dan akhirnya menjadi budaya. GLS merupakan gerakan literasi yang dibangun di satuan pendidikan, menjadikan literasi tidak terpisah dari dunia pendidikan. Sehingga dengan literasi peserta didik dapat mengenal, memahami dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik di luar lingkungan sekolah. Dalam Desain Induk GLS disebutkan tujuan umumnya adalah menumbuhkembangkan budi pekerti peseta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam GLS agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Sasaran GLS adalah ekosistem pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Didalamnya juga dituangkan bahwa GLS melibatkan semua warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidika, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid peserta didik). Semua elemen itu berkolaboaratif demi mewujudkan pembiasaan membaca peserta didik.

 Salah satu kegiatan sehari-hari di sekolah yang dapat dilaksanakan dalam GLS yaitu sebelum memulai pembelajaran membaca buku non pelajaran sekitar 15 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya diarahkan ke tahap pengembangan, dan pembelajaran.

 GLS pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat dilaksanakan melalui West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC) untuk menginisiasi kebangkitan komunitas literasi di sekolah-sekolah Jawa Barat. Dalam Buku Panduan GLS-WJLRC dituliskan bahwa program WJLRC melalui pola yang terstruktur, waktu pelaksanaan yang panjang berkesinambungan, dan penghargaan yang tinggi kepada siswa yang berprestasi.
 Diharapkan dengan GLS-WJLRC mampu meningkatkan daya nalar siswa yang lebih baik, kecepatan membaca dan menyimak bacaan dengan lebih tinggi, juga akan mendorong tumbuhnya karakter positif sebagai siswa pembelajar sejati, yang memiliki disiplin, rasa percaya diri, ketangguhan dan mampu bekerja sama untuk mengatasi kesulitan.

Dalam Panduan GLS-WJLRC menyatakan pembiasaan budaya membaca yang terjadi di sekolah mengalami penurunan yang signifikan. Hal itu terlihat dari pertama kalinya Indonesia mengikuti tes PISA (Programme for International Student Assessment) yang dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Co-opertion and Development). PISA mengukur pengetahuan dan keterampilan penting yang berguna bagi kehidupan modern. Pada tes PISA tersebut siswa tidak hanya dituntut untuk menunjukkan kemampuan yang mereka pelajari, tetapi juga mengekstrapolasi pengetahuan tersebut dan menggunakannya pada kondisi-kondisi yang belum mereka kenal sebelumnya.

 Hal tersebut di atas menjadikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melaksanakan GLS melalui WJLRC untuk meningkatkan budaya baca peserta didik. WJLRC merupakan program tantangan membaca yang telah diujicobakan di ratusan sekolah di Jawa Barat.
Berawal dari kerjasama antara Provinsi Jawa Barat dengan Departemen Pendidikan Australia Selatan sejak tahun 2010. WJLRC merupakan salah satu hasil pelatihan guru-guru Jawa Barat di Australia Selatan.
Penulis merupakan salah satu guru yang diberangkatkan pada program di atas, yaitu pada bulan September 2013. Selama tiga minggu guru diberikan berbagai materi yang dapat dijadikan bekal sebagai referensi peningkatan pendidikan khususnya di Jawa Barat.
Penulis bertugas di SD Negeri Ibu Jenab 2 Kabupaten Cianjur Jawa Barat, dengan lingkungannya yang memang berbeda, baik dari kultur, budaya, etos kerja, kurikulum dan sebagainya dengan keadaan dan kultur di Adelaide. Lingkungan sekolah SD Negeri Ibu Jenab 2 yang berada di tengah kota, merupakan sebuah kompleks dengan tiga sekolah yang berbeda. Ketiganya berstatus negeri, namun memiliki jumlah siswa yang berbeda.

Walau dengan sumber daya manusia yang begitu banyak yaitu berjumlah 410 siswa, dengan guru dan tenaga pendidikan berjumlah 24 namun, pembiasaan membaca di sekolah sepertinya sudah tidak terlihat. Sangat jauh bila dibandingkan dengan sekolah di Negara maju yang memang mereka mengerti akan makna membaca.
Dengan berniatkan ikhlas dan ibadah, sekembalinya dari Adelaide banyak program yang harus diterapkan. Program yang sejalan dengan lingkungan dan menunjang untuk dilakukan. Berbagai program yang mungkin bisa diterapkan yang disesuaikan dengan keadaan dan kondisi sekolah.
Sebagai guru kelas 6, penulis menerapkan beberapa hasil dari pembelajaran di Adelaide. Salah satunya adalah menerapkan budaya baca. Siswa dianjurkan untuk membawa buku cerita dari rumahnya. Buku cerita disimpan di kelas. Disimpan dalam satu buah meja yang berada dipinggir lemari. Siswa membaca buku ketika pembelajaran bahasa Indonesia. Buku dijadikan salah satu sumber pembelajaran. Sebagai referensi yang bisa digunakan ketika pembelajaran bahasa Indonesia.

Tahun ajaran 2015/2016, penulis diberikan kesempatan untuk mengajar di kelas bawah kembali, yaitu kelas 2. Pada tahun ajaran ini, kemdikbud mengeluarkan aturan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Juga menyanyikan lagu nasional pada awal pembelajaran dan lagu daerah pada akhir pembelajaran. Beberapa kelas di SD Negeri Ibu Jenab 2 Cianjur melaksanakan program yang telah dicanangkan. Kelas 2 yang diawali dengan mengundang orang tua wali siswa untuk bersama membahas pelaksanaan kegiatan selama satu tahun. Orang tua wali siswa juga diminta untuk mengumpulkan buku yang akan disimpan di sekolah.

Pelaksanaan literasi di kelas 2 masuk dalam pembelajaran. Model yang digunakan salah satunya adalah PWIM (Picture-Word Inductive Models). PWIM atau juga Model Induktif Kata Bergambar dikembangkan oleh Emily Calhoun (19:2016) menurutnya model ini dirancang dari suatu penelitian tentang bagaimana para siswa tidak hanya bisa melek huruf pada huruf cetak, khususnya menulis dan membaca, tetapi juga mengembangkan bagaimana mendengarkan dan mengucapkan kosakata.
Model induktif kata bergambar ini memadukan model berfikir induktif dan model pencapaian konsep ketika pada siswa belajar kata-kata, kalimat-kalimat, dan paragraf-paragraf Model induktif kata bergambar adalah pendekatan seni bahasa yang terintegrasi dan berorientasi penelitian untuk mengembangkan kemampuan baca tulis.

Setiap siklus model induktif kata bergambar (PWIM) menggunakan sebuah foto besar sebagai stimulus umum untuk menghasilkan kata-kata atau kalimat-kalimat.
Guru bekerja dengan seluruh siswa atau dengan kelompok kecil siswa,menggunakan gerakan-gerakan yang meliputi siklus PWIM untuk mendukung perkembangan bahasa lisan dan kosakata siswa; kesadaran fonologi mereka dan keterampilan analisis kata mereka; pemahaman bacaan dan penyusunan kata, frase, kalimat, paragraph, dan level buku bacaan yang semakin luas; serta keterampilan observasi dan penelitian mereka.
Ketika pembelajaran di kelas, siklus PWIM dimulai dengan sebuah foto yang diberikan kepada siswa. Foto tersebut ditempel pada papan tulis. Foto yang diberikan meliputi banyak detail yang dapat dijelaskan siswa dengan menggunakan bahasa mendengarkan-berbicara mereka yang telah berkembang. Siswa di kelas mempelajari gambar dan kemudian mengeluarkan kata-kata, memasukan representasi dan tindakan-tindakan yang mereka lihat dalam gambar ke dalam kata-kata.
Guru menggambar sebuah garis dari benda-benda yang berada dalam foto ke suatu tempat di luar foto, mengulang kata, dan menulis sera mengeja kata atau frasa dengan keras. Siswa mengulang kata tersebut. Pola yang diberikan adalah melihat, mengucap, mengeja, mengucapkan. Rantai yang terjadi merupaka rantai mnemonic (membantu menghapal) yang membantu dasar mengucapkan dan mengeja kata-kata.
Apa yang muncul ketika siswa mengidentifikasi item-item dan tindakan-tindakan adalah kamus kata-gambar yang diilustrasikan. Selanjutnya dimulai dengan membuat kartu-kartu kata individual kepada siswa. Para siswa menulis kata-kata yang telah diucapkan bersama, dan menulisnya dalam kartu yang sudah disediakan. Siswa disuruh untuk mengecek apakah kata-kata yang dibuat sesuai dengan foto yang ditampilkan. Kemudian guru berkeliling untuk melihat kegiatan siswa ketika siswa sudah mulai membaca kata-kata yang dibuat.

 Siklus selanjutnya adalah siswa dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok sebanyak 5 - 6 orang. Setiap kelompok diberikan gambar (setiap kelompok diberikan gambar yang berbeda), karton, kertas lipat, dan lem. Gambar di tempel di tengah-tengah karton. Siswa berkelompok dan mengamati gambar yang telah diberikan. Kemudian siswa menyebutkan kata-kata atau frasa yang terlihat dalam gambar. Setelah mengamati, siswa mempersiapkan kertas lipat, kemudian digunting untuk dijadikan kartu kata. Siswa menuliskan kata-kata yang ditemukan di gambar dalam kertas lipat yang sudah tersedia. kemudian menarik garis dari gambar ke luar gambar dan disambungkan dengan kertas lipat yang sudah dituliskan kata-kata atau frasa. Setiap kelompok melakukan hal yang sama. Setiap kelompok menuliskan sebanyak-banyaknya kata yang dapat ditemukan. Setelah selesai menempelkan kertas lipat, siswa mepresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan. Semua kelompok ke depan dan menceritakan gambar yang telah ditempel di karton. Siswa yang tidak mempresentasikan menanggapi laporan dari kelompok yang ada di depan. Setelah selesai mempresentasikan, guru memberikan tanggapan dan masukan untuk setiap kelompok yang tampil. Selesai berdiskusi kelas, karton hasil kerja kelompok dijadikan pajangan di dinding kelas.
Kesan yang dapat diambil dari kegiatan pembelajaran dengan PWIM, siswa aktif melakukannya, siswa senang dapat menyampaikan pendapatnya dalam kelompok. Senang untuk berbagi cerita kepada teman-temannya sekelas ketika berdiskusi di kelas. senang juga ketika memberikan pendapat dan masukan untuk kelompok yang sedang mempresentasikan hasil kelompoknya di depan.

Kegiatan pembelajaran di kelas 2. Selain dengan PWIM, mereka juga dibiasakan untuk membaca buku cerita yang dibawa dari rumah masing-masing. Siswa membaca buku dan mereviuw dengan cara menuliskan hasil yang dibaca dengan bentuk mind maping yang sederhana.
Pembuatan mind maping dilakukan dengan diawali dengan menulis judul ditengah kertas dengan bentuk yang disukai siswa. Dari judul yang telah dibentuk ditarik garis dengan isi dari bacaan, yaitu tentang tokoh, watak, latar, pengarang, penerbit, dan juga amanat dari cerita yang dibaca. Hasil reviuw siswa ditulis dalam kertas HVS yang dibagikan oleh gurunya. Selain dibentuk dengan mind maping yang sederhana, siswa memberi warna yang menarik pada reviuwnya.
Penggunaan spidol dan crayon warna-warni yang digunakan menambah keindahan pada hasil yang dibuat. Setelah dibuat, hasil siswa dipajang di dinding kelas. Siswa senang sekali dengan hasil yang telah dibuatnya.
Pembuatannya pun membuat siswa tidak jenuh dalam belajar. Dari buku cerita yang dibawa juga, siswa ditugasi untuk mencari kata-kata yang diawali dengan awalan me dan di.
Siswa secara berkelompok menuliskan kata-kata yang dimaksud dalam kertas HVS. Dari setiap buku yang dibaca siswa sangat antusias mencari kata-katanya.

Siswa terlihat senang, beberapa dari kelompok yang mengerjakan tugas terlihat lebih banyak dari kelompok lain. Hal itu membuat siswa yang lain terpacu untuk lebih dalam mengerjakan tugasnya. Setelah waktu yang diberikan selesai, siswa melaporkan hasilnya di depan kelas. teman-temannya menanggapi dan memberikan masukan. Semua kelompok dapat melaporkan hasil diskusinya, guru menanggapi dan memberi masukan pada setiap kelompok.

Hasil akhirnya, kembali dilakukan pemajangan di dinding kelas. Pencarian kata-kata dari buku cerita, selain sebagai pengenalan kepada siswa tentang cerita juga membuat siswa lebih sering dalam membaca. Dengan melakukan pencarian tersebut, siswa secara tidak langsung melakukan analisis terhadap buku yang dibacanya.
Pada kesempatan lain, siswa menggunakan buku cerita sebagai sumber inspirasi dalam menggambar. Pada buku cerita yang digunakan kelas bawah terdapat banyak gambar. Siswa dengan berbekal buku ceritanya menggambarkan kembali salah satu gambar yang disenanginya. Memang tidak semua siswa dapat menggambar dengan baik, tetapi setidaknya, mereka mencoba melakukan yang terbaik dalam melaksanakan tugasnya. Siswa dengan semangatnya pula dapat menyelesaikan tugas menggambar dengan melihat gambar yang ada dalam buku cerita.

Kegiatan literasi yang dilakukan siswa kelas 2 SD Negeri Ibu Jenab 2 mendapat dukungan dari Ibu Kepala Sekolah. Setelah mengamati kegiatan yang dilakukan dan memperdalam tentang literasi, akhirnya Kepala Sekolah dengan segera mencanangkan kegiatan Literasi di sekolah. Pencanangan sebagai sekolah dengan komunitas baca di SD Negeri Ibu Jenab 2 Cianjur, diberi nama yaitu lelembut oleh Ibu Kepala Sekolah.
Pelaksanaannya pada hari Senin tanggal 02 Mei 2016, bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional. Dengan dicanangkannya komunitas baca “lelembut” di sekolah, kelas lain pun mengikuti kegiatan literasi di setiap kelas. Dari mulai kelas satu sampai kelas enam melaksanakan gerakan literasi.
Berbagai kegiatan dilakukan dikelas masing-masing. selain pelaksanaan Literasi di kelas tinggi dilakukan sesuai dengan GLS, yaitu pembacaan buku non pelajaran 15 menit sebelum pembelajaran dimulai, juga menyanyikan lagu nasional diawal pembelajaran, juga menyanyikan lagu daerah setelah pembelajaran.
Bersamaan dengan diluncurkannya Gerakan Literasi Sekolah dari Kemdikbud, Provinsi Jawa Barat dalam hal ini Dinas Pendidikannya juga mulai melakukan gerakan literasi sekolah yang diwadahi dengan nama WJLRC (West Java Leader’s Reading Challenge’s). Kegiatan Literasi Kementerian terdiri dari Pembiasaan, pengembangan, dan Pembelajaran. Sekolah SD Negeri Ibu jenab 2 Cianjur pada tahun ajaran 2015/2016 sudah mulai melaksanakan apa yang diluncurkan GLS.

Demikian juga program WJLRC mulai diterapkan di sekolah. Pengenalan WJLRC di sekolah, dimulai dengan sosialisasi kepada orang tua siswa, karena dengan partisipasi orang tualah maka pelaksanaan kegiatan akan terlaksana dengan baik. Orang tua dilibatkan karena dengan bantuannya, siswa akan memerlukan buku cerita untuk dibaca siswa, berbagai buku cerita yang dijadikan referensi. Pengadaan buku dibantu dengan orang tua/wali siswa. Mereka mendukung kegiatan yang diadakan di sekolah. Buku-buku yang terkumpul disimpan di kelas dalam pojok baca. Sebagai perpustakaan kelas, buku-buku tertata rapi untuk dibaca oleh siswa. Setelah dilakukan sosialisasi, mulai pelaksanaan kegiatan dalam bentuk ekstrakurikuler. Selain bentuk pelaksanaan di sekolah, kami melaksanakan gerakan budaya baca ketika kami melakukan kunjungan ke berbagai tempat.
Perpustakaan daerah kami kunjungi untuk menambah wawasan. Pelaksanaan WJLRC di sekolah, mulai diterapkan di sekolah sebagai sekolah perintis yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Bentuk pelaksanaan literasi dilaksanakan melalui ekstrakurikuler Literasi. Pelaksanaannya setiap hari Selasa pada pukul 13.00. siswa yang mengikuti sebanyak 40 siswa mendapat bimbingan dari guru pembimbingnya. Siswa yang ikut dalam program ekstrakurikuler WJLRC sebanyak 40 orang terdiri dari siswa kelas 4, 5, dan 6. Siswa peserta WJLRC ini dibimbing oleh delapan pembimbing yang secara sukarela mengajukan diri, siswa mengikuti program Literasi lelembut di sekolah dengan senang.
 Kegiatan yang dilakukan sesuai dengan program WJLRC Jawa Barat, dengan berbekal buku panduan, buku saku, dan workshop yang diikuti. Setiap anggota WJLRC diberikan kesempatan untuk membaca bukunya sebanyak 24 buku. Buku yang dibaca tentu saja harus divalidasi oleh guru pembimbing dan pustakawan. Validasi dilakukan karena sekarang banyak buku yang berjilid seperti untuk anak-anak, tetapi isinya merupakan konsumsi untuk dewasa. Dari jumlah itu, dua buku yang diharapkan dibaca adalah buku berbahasa daerah, Hal itu dikarenakan kurangnya minat baca pada buku bahasa daerah. Setelah validasi oleh pembimbing dan pustakwan, buku boleh dibaca oleh siswa. Buku-buku yang dibaca selain dari orang perpustakaan di sekolah bukanlah perpustakaan yang besar, lengkap dengan buku buku literature, tetapi perpustakaan sederhana dengan hanya beberapa buku fiksi. Namun walau demikian siswa senang berada di perpustakaan. Ada waktu berkunjung siswa mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Pembagian kunjungan untuk menerapkan cinta budaya baca.

Selain dalam ekstrakurikuler, kegiatan jeda pun kami tetap membudayakan membaca, di sela-sela bermain, kami sempatkan untuk melakukan presentasi dan diskusi. Kami senang, membaca buku bukan sebagai suatu tugas, tapi kami mengikutinya karena memang kami senang membaca. Pembimbing yang ikut dalam WJLRC pun ikut dalam membaca. Guru mempunyai tagihan sebanyak 10 buku yang harus direviu, dua diantaranya adalah buku berbahasa daerah. Bruce (2015) mengatakan Guru haruslah mempunyai kompetensi agar bisa mendorong siswa untuk mengungkapkan perasaan dengan bebas; mendorong siswa untuk menjabarkan masalah; menerima dan mengapresiasi perasaan-perasaan; selalu mendiskusikan masalah dengan siswa; memberikan wawasan lebih mendalam dan mengembangkan tindakan yang lebih positif. Russel Stauffer, 60 tahun, pembicara kunci pada pembukaan workshop metode mengajar membaca berbasis pengalaman yang bersifat induktif, menytakan bahwa membaca adalah berfikir. Guru membaca adalah guru berpikir. Anda tidak akan mengajar anak-anak membaca atau berpikir dengan menunjukkannya secara langsung. Apa yang dapat anda lakukan adalah membantu mereka mengembangkan strategi-strategi yang dapat mereka gunakan untuk mempelajari huruf-huruf, kata-kata dan struktur serta, yang paliing penting, untuk merasakan arti dari apa yang mereka baca.

Begitu berartinya membaca bagi semua merupakan jalan menuju pencerahan. Tanggung jawab tersebut salah satunya dipundak guru. Guru sebagai pembuka jalan menuju pencerahan haruslah mempunyai pola pikir yang inovatif. Dengan membaca banyak manfaat yang bisa dicapai, salahsatunya adalah jalan penumbuhkembangan karakter. Melalui penumbuhan budaya baca merupakan satu alur yang memang sangat berkaitan. Tanpa budaya baca nilai-nilai karakter tidak akan tumbuh dengan sendirinya.

Kegiatan yang dilakukan di sekolah, membuka pintu siswa menjadi generasi emas 2025. Hal itu disadari atau tidak haruslah dijalankan dengan konsekuensi yang tinggi. Serta konsistensi bagi semua stakeholder yang terkait. Diharapkan pemerintah yang sudah menggulirkan GLS lebih ada pemantauan yang efektif demi terselenggaranya program yang begitu massif ini. Berbagai pihak untuk selalu diingatkan agar terlaksananya program sehingga apa yang menjadi tujuannya dapat tercapai. Di Jawa Barat pihak pemerintahan sudah begitu peduli dalam program GLS. Program WJLRC begitu menunjang dan sejalan dengan GLS Kemdikbud. Seandainya semua provinsi berpikiran sama untuk memajukan dan menjadikan generasi emas Indonesia. Demikianlah kegiatan literasi yang diterapkan di sekolah kami. Dengan Nama komunitas lelembut, semoga program yang dilaksanakan sesuai dengan harapan semuanya mencetak generasi emas di tahun 2020.

Di bawah adalah salah satu cara meriviu bacaan yang menjadi program dalam WJLRC
Selamat menonton yaa


2 komentar:

Athi' Rosalina mengatakan...

Untuk literasi, saya masih belum terlalu bisa menerapkan di kelas...padahal wajib y bu...

Ihat Solihat mengatakan...

Ya Bu Athi, kalau sudah masuk dalam kurikulum di sekolah harus dilaksanakan.
Setiap pembelajaran yang kita laksanakan tidak terlepas dari literasi, hanya dilaksanakan tanpa disadari bahwa ternyata kita sudah mengembangkan literasi.

Makasih Bu Athi....
Salam literasi